Kabupaten Alor, salah satu dari 16 Kabupaten/Kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Wilayahnya terdiri 15 pulau yang 9 diantaranya telah dihuni. Luas wilayah daratan 2.864,64 km², luas wilayah perairan 10.773,62 km² dan panjang garis pantai 287,1 km.
Batas alam Kabupaten Alor di sebelah utara dengan Laut Flores, sebelah selatan dengan Selat Ombay, sebelah timur dengan Selat Wetar dan perairan Republik Demokratik Timor Leste dan sebelah barat dengan Selat Alor (Kabupaten Lembata).
Pulau Alor merupakan bagian dari Kabupaten Alor, NTT, sekitar 260 km dari ibukota Kupang, 360 km dari Ende (Flores), dan 1600 km sebelah Timur Ibu Kota Jakarta. Lokasi ini bisa dicapai dengan menggunakan kapal boat dari Kupang selama sekitar 8 jam atau 55 menit dengan menggunakan pesawat udara melalui Bandara Mali.
Secara geografis, Alor merupakan daerah pegunungan, dibatasi oleh lembah juga jurang yang cukup dalam dan sekitar 60 persen wilayahnya mempunyai tingkat kemiringan di atas 40 persen. Iklimnya tidak menentu. Curah hujan yang tak menentu dan merata, dan musim penghujan relatif lebih pendek daripada kemarau.
Sejumlah desa berpenduduk mayoritas muslim setempat, selama ini terpaksa hidup dalam kekeringan dan ancaman kelaparan. Misalnya warga Pulau Kangge, Kecamatan Pantar Barat Laut, Kabupaten Alor, NTT. Minimnya air bersih (fresh water), membuat mereka harus berjibaku mencari ke sejumlah sumur yang jauhnya sampai 3 km dari rumah.
‘’Warga Kangge yang berjumlah 238 keluarga atau 1200-an jiwa, harus mencari air bersih ke Kampung Kayan. Kebanyakan harus jalan kaki sejauh 3 km,’’ papar Gunawan Bala, Da’i Dewan Da’wah di Kabupaten Alor.
Gunawan Bala, pemuda kelahiran Pulau Kangge, 12 April 1977, sejak 2004 telah memulai aktivitas dakwah bersama teman-temannya yang rata-rata adalah lulusan pesantren maupun universitas di Pulau Jawa. Dakwah yang dilakukan pertama kali secara non formal dan bersifat umum.
Dai tamatan pesantren Persis Jawa Barat ini sering bersama ormas-ormas Islam yang ada melaksanakan berbagai pembinaan-pembinaan di masjid-masjid, yaitu pembinaan Khatib, Imam, Muazin, dan Pengurus Mesjid.
Kendati muslim hanya sekitar 27 % dari jumlah penduduk yang ada, Gunawan Bala mengungkapkan bahwa tidak ada tekanan yang berlebihan dari kelompok agama lainnya. Bahkan, secara politik perwakilan dari Partai Islam yang ada dapat menduduki lebih dari lima kursi di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah di Alor.
‘’Banyak orang Islam kuliah di Universitas Katolik Widya Mandira dan Universitas Kristen Artha Wacana Kupang. Sebaliknya, 70 persen non muslim menjadi mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Kupang,’’ ungkap Gunawan.
Kembali ke soal kekeringan, Gunawan melanjutkan, warga yang punya uang, biasanya menitip beberapa jirigen ke pemilik perahu motor yang hendak mengambil air lewat jalur laut. Ada juga yang menempuh jalur ini dengan sampan dayung.
Kekeringan juga melanggani warga Pulau Baranusa, Pantar Barat, Alor. Hampir semua penduduk desa ini, setiap akhir pekan tumplek di satu-satunya sumber mata air umum Eli-ke’el. MCK (mandi-cuci-kakus) ini kondisinya kumuh, tidak higienis, dan tidak memiliki ruang privasi.
Ketika Ustadz Gunawan Bala dan Ramli dari Kupang berkunjung ke sana pada Ahad siang, 16 Oktober lalu, Eli-ke’el ramai. Tampak Mama Syarifah (58), guru ngaji di Masjid Al Hidayah Baranusa, mengenakan kemben sedang mencuci di pinggir sumur. Di sebelahnya, seorang gadis mandi basahan. Tak jauh dari mereka, sepasang suami istri berpakaian seadanya juga tengah asyik mencuci. Sedang di depannya, dua remaja mencuci motor.
Untuk mengambil air bersih, warga Pulau Buaya di Kecamatan Pantar Barat, juga mesti menyeberang ke pulau lain. Tidak bisa tidak, mereka harus keluar ongkos, waktu, dan tenaga ekstra, mengarungi ombak yang sering tak ramah, demi beberapa jirigen fresh water.
Gunawan Bala mengusulkan agar dai bersama lembaga Islam lainnya juga dapat mengembangkan transportasi laut sehingga dapat memajukan ekonomi umat dan mempermudah gerak dakwah para dai dari pulau ke pulau.



