Artikel

Sejumlah Hukum Seputar Qurban


Oleh: Dr. Ahmad Zain An Najah, MA
Ketua Majelis Fatwa dan Pusat Kajian Dewan Da'wah

 

 

Di bawah ini beberapa permasalahan yang terkait dengan ibadah kurban yang sering ditanyakan oleh masyarakat, diantaranya adalah sebagai berikut: 

1.     Menjual Bagian Hewan Qurban, atau Menjadikannya Upah Jagal.

Seseorang yang berqurban tidak boleh menjual sesuatu dari binatang kurban, seperti kepala, kulit, lemak, dan lain-lainnya. Begitu juga, tidak boleh menjadikannya sebagai upah bagi para petugas qurban, seperti jagal, panitia dan lain-lain.

Dalilnya adalah hadist Ali bin Thalib RA., bahwasanya beliau berkata: "Nabi SAW memerintahkanku agar aku berada (menyaksikan hewan qurbannya) dan membagi-bagikan qurban, namun aku tidak boleh memberikan apapun dari hewan qurban itu kepada tukang jagalnya (sebagai upah)" (HR Bukhari dan Muslim).

Namun, jika pequrban telah memberikan daging, kulit atau kepala dari binatang qurban tersebut kepada seseorang, termasuk jagal, maka orang tersebut boleh menjualnya karena sudah menjadi miliknya secara sah.

2.  Berniat Qurban dan Aqiqah Sekaligus.

Jika seseorang mempunyai anak yang lahir tujuh hari sebelum hari raya Idul Adha, sehingga aqiqahnya bertepatan dengan hari Idul Adha, apakah boleh dia menyembelih satu kambing dengan dua niat ; niat untuk aqiqah dan untuk qurban sekaligus?

Para Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini.

Pendapat Pertama: Menyatakan bahwa qurbannya tidak sah. Ini adalah pendapat ulama dalam madzhab Maliki dan Syafi'i, serta riwayat  dari Imam Ahmad (Al Haitami, Tuhfatul Muhtaj, 9/371). Alasannya, karena masing-masing dari aqiqah dan qurban mempunyai maksud tersendiri sehingga tidak bisa digabung. Al Hattab, seorang ulama dari madzhab Maliki mengatakan jika berniat qurban dan aqiqah dalam satu waktu, maka tidak sah, karena ibadah keduanya terletak pada penyembelihan. Tetapi jika berniat qurban dan walimah, maka keduanya sah, karena qurban nilai ibadahnya dalam penyembelihan, sedang walimah niat ibadahnya dalam pemberian makan kepada orang lain. (al Hattab, Mawahib al Jalil: 3/259).

Pendapat Kedua:  Menyatakan bahwa qurban dan aqiqahnya sah. Ini adalah pendapat ulama Hanafiyah dan riwayat dari Imam Ahmad, dan pendapat Hasan al Bashri, Muhammad bin Sirin dan Qatadah.

Alasannya bahwa keduanya dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala melalui penyembelihan, maka menjadi sah, sebagaimana seseorang ketika masuk masjid langsung bergabung ke dalam shof dengan niat melakukan sholat jama'ah dan niat melakukan sholat tahiyatul masjid sekaligus, maka kedua niat tersebut sah. Sebagaimana juga, jika seseorang mandi dengan niat untuk sholat Ied dan untuk sholat Jum'at sekaligus, pada hari dimana hari Ied-nya jatuh pada hari Jum'at, maka kedua niat tersebut sah. (Ibnu Abi Syaibah, al Mushonaf: 5/534 , al Bahuti,  Syarh Muntaha al Iradat : 1/617 ).

3. Kornet atau Abon Daging Qurban.

Dibolehkan untuk menyimpan daging qurban dalam bentuk kornet atau abon.  Dasarnya adalah hadist Salamah bin Al Akwa' RA, dia berkata bahwasanya Nabi SAW bersabda: "Siapa saja di antara kalian yang berqurban, janganlah menyisakan daging kurban di rumahnya melebihi tiga hari." Pada tahun berikutnya orang-orang bertanya; "Wahai Rasulullah, apakah kami harus melakukan sebagaimana yang kami lakukan pada tahun lalu?" Beliau bersabda: "Makanlah daging kurban tersebut dan bagilah sebagiannya kepada orang lain, serta simpanlah sebagian yang lain, sebab tahun lalu orang-orang dalam keadaan kesusahan, oleh karena itu saya bermaksud supaya kalian dapat membantu mereka (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits di atas terdapat perintah untuk menyimpan daging qurban lebih dari tiga hari, perintah tersebut menunjukkan kebolehan. Sedang Rasulullah SAW sendiri tidak menerangkan tehnis penyimpanannya, maka hal itu  diserahkan kepada para sahabat dan kaum muslimin, termasuk di dalamnya menyimpannya dalam bentuk kornet. 

4. Lebih Utama Berqurban atau Membantu Korban Bencana?

Kalau pertanyaannya seperti di atas, maka jawabannya bahwa yang paling utama adalah melakukan kedua-duanya yaitu berqurban dengan harta yang telah disiapkan sebelumnya dan juga membantu korban bencana dengan harta yang lain. 

Bagaimana kalau dananya terbatas? 

Jawabannya adalah hendaknya dia berqurban dan menyembelihnya pada waktu yang telah ditentukan yaitu tanggal 10- 13 Dzulhijjah, kemudian dagingnya diberikan kepada korban bencana, dengan demikian dia mendapatkan dua pahala sekaligus: pahala berqurban dan pahala membantu korban bencana. 

5. Mencukur Rambut atau Memotong Kuku Pequrban. 

Dalam hal ini terdapat hadist Ummu Salamah radiallahuanha, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : "Jika telah tiba sepuluh hari pertama (Dzul Hijjah) dan salah seorang dari kalian hendak berqurban, maka janganlah mencukur rambut atau memotong kuku sedikitpun." ( HR Muslim ).

Dalam menyikapi hadist di atas, para ulama berbeda pendapat: Imam Abu Hanifah mengatakan boleh, Imam Ahmad mengatakan haram berdasarkan teks hadist di atas. Adapun Imam Malik dan Imam Syafi'i  mengatakan makruh dan tidak haram. Pendapat terakhir ini lebih kuat, karena ada hadist lain yang memalingkan dari keharaman kepada makruh, yaitu hadist Aisyah radiallahuanha, bahwasanya ia berkata: "Adalah Rasulullah SAW membawa hewan qurbannya dari Madinah, lalu aku mengikatkan kalung pada hewan qurban Beliau, maka Beliau tidak menjauhi sesuatu apa-apa yang harus dijauhi orang berihram" (HR Bukhari dan Muslim).

Hadist Aisyah di atas menunjukkan tidak ada larangan apapun bagi yang berniat berqurban seperti larangan orang-orang yang melakukan ihram haji.  Sehingga kalau dipadukan dengan hadist Ummu salamah radiallahuanha sebelumnya, maka bisa disimpulkan bahwa jika telah memasuki sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, bagi yang berniat berqurban disunnahkan  untuk tidak memotong rambut dan kukunya sampai dia menyembelih hewan qurbannya.  

6. Berqurban untuk Orangtua yang Sudah Wafat.

Banyak orang yang berqurban diniatkan untuk orangtuanya yang sudah meninggal dunia. Pertanyaannya adalah apakah pahalanya akan sampai kepada orang tuanya yang meninggal dunia tersebut?

Para ulama berbeda pendapat di dalam masalah ini: sebagian dari mereka mengatakan bahwa pahalanya tidak sampai, dan sebagian yang lainnya mengatakan bahwa pahalanya sampai.

Pendapat yang terakhir ini lebih kuat, karena ada beberapa ibadah yang dijelaskan di dalam al Qur'an dan Hadits bahwa pahala tersebut sampai kepada mayit, seperti doa anak kepada orangtuanya, doa kaum muslimin dalam sholat jenazah, seorang anak yang menghajikan orang tuanya yang bernadzar haji dan lain-lainnya. 

Tapi yang perlu diingat, bahwa amalan berqurban untuk orangtuanya yang meninggal dunia, atau menghadiahkan pahalanya kepada mereka adalah perbuatan yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya, walaupun itu boleh, tetapi bukan sesuatu yang dianjurkan, maka sebaiknya tidak usah diamalkan.

Toh, walaupun tanpa diniatkan untuk dikirimkan pahalanya kepada mereka, Insya Allah pahala  tersebut dengan sendirinya akan mengalir kepada mereka sebagai balasan telah mendidik anaknya dengan baik dan benar selama hidupnya.

Ini sesuai dengan hadist Abu Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: "Apabila salah seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfa'at baginya dan anak shalih yang selalu mendoakannya." (HR Muslim). [] Wallah’alam Bish Shawab