Artikel

BERSYUKUR DENGAN MEMBERI


Oleh: Ust. H. Darwis Abu Ubaidah, M.Pd.I.

Apabila direnungkan secara sadar dan mendalam, ternyata memang banyak nikmat Allah Swt. yang telah kita terima dan gunakan dalam hidup ini. Demikian banyaknya sehingga kita tidak mampu menghitungnya. Allah Swt. berfirman:

''Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'' (QS.An-Nahl:18).

Hakikat Syukur

Hakikat syukur adalah menampakkan nikmat dengan menggunakannya pada tempat dan sesuai dengan kehendak pemberinya. Sedangkan kufur adalah menyembunyikan dan melupakan nikmat. Allah Swt. berfirman:

''Dan (ingatlah) tatkala Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.(QS.Ibrahim:7)

Pada dasarnya, semua bentuk syukur ditujukan kepada Allah Swt. Namun, bukan berarti kita tidak boleh bersyukur kepada mereka yang menjadi perantara nikmat Allah Swt tersebut. Ini bisa dipahami dari perintah Allah untuk bersyukur kepada orang tua yang telah berjasa menjadi perantara kehadiran kita di dunia. Firman Allah:

“Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu-bapakmu, hanya kepada-Ku kamu kembali. (QS.31:14)

Begitu pula dengan perintah untuk mendoakan orang-orang yang telah memberikan sebagian karunia Allah Swt. yang diterimanya kepada kita. Sesungguhnya ini adalah bagian dari rasa syukur dan terima kasih kita kepadanya. Dan hal itu sangat berarti baginya, karena mendatangkan ketenangan dan ketentraman bagi yang memberikannya itu. Firman Allah:

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS. At-Taubah:103).

Manfaat Syukur

Bersyukur akan menguntungkan pelakunya. Allah tidak akan memperoleh keuntungan dengan syukur hamba-Nya dan tidak akan rugi atau berkurang keagungan-Nya apabila hamba-Nya kufur. Allah SWT berfirman:

 ''Dan siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia.''(QS. an-Naml:40).

Cara Bersyukur

Ada beberapa cara mensyukuri nikmat Allah Swt. Antara lain:

  1. Syukur dengan hati. Ini dilakukan dengan mengakui sepenuh hati bahwa apa pun nikmat yang diperoleh bukan semata hanya karena kepintaran, keahlian, dan kerja keras, tetapi karena anugerah dan pemberian Allah Yang Maha Kuasa. Keyakinan ini membuat seseorang tidak merasa keberatan betapa pun kecil dan sedikit nikmat Allah yang diperolehnya.
  2. Syukur dengan lisan. Yaitu, mengakui dengan ucapan bahwa semua nikmat berasal dari Allah Swt. Pengakuan ini diikuti dengan memuji Allah Swt. melalui ucapan alhamdulillah. Ucapan ini merupakan pengakuan bahwa yang paling berhak menerima pujian adalah Allah Swt.
  3. Syukur dengan perbuatan. Hal ini dengan menggunakan nikmat Allah Swt. pada jalan dan perbuatan yang diridhai-Nya, yaitu dengan menjalankan syariat, menta'ati aturan Allah Swt. dalam segala aspek kehidupan. Sikap syukur perlu menjadi kepribadian setiap Muslim. Sikap ini mengingatkan kita untuk berterima kasih kepada pemberi nikmat (Allah Swt.) dan perantara nikmat yang diperolehnya (manusia). Dengan syukur, ia akan rela dan puas atas nikmat Allah Swt. yang diperolehnya dengan tetap meningkatkan usaha guna mendapat nikmat yang lebih baik.

Sisi Lain

Selain itu, bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah Swt. merupakan salah satu kewajiban seorang muslim. Seorang hamba yang tidak pernah bersyukur kepada Allah, alias kufur nikmat, adalah orang-orang sombong yang berpeluang akan mendapat balasan dari Allah Swt. Allah  Swt. telah memerintahkan hamba-hambaNya untuk mengingat dan bersyukur atas nikmat-nikmatNya: 

“Karena itu, ingatlah kamu kepadaKu niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepadaKu dan janganlah kamu mengingkari nikmatKu.” (QS al-Baqarah:152)

Ahli Tafsir, Muhammad Ali Ash Shabuni, menjelaskan bahwa yang dimaksud “Ingat kepada Allah” itu adalah dengan ibadah dan ta’at, maka Allah akan ingat kepada kita, artinya memberikan pahala dan ampunan. Selanjutnya kita wajib bersyukur atas nikmat Allah dan jangan mengingkarinya dengan berbuat dosa dan maksiat.

Di zaman sekarang ini, betapa banyak orang merefleksikan rasa bersyukur, namun dengan cara-cara yang bertentangan dengan prinsip-prinsip syukur itu sendiri. Untuk itu, para ulama telah menggariskan tata cara bersyukur yang benar, yakni dengan cara beribadah dan memupuk ketaatan kepada Allah Swt. dan meninggalkan maksiat.

Allah Swt. telah menyatakan dengan sangat jelas bahwa orang-orang yang mau bersyukur atas nikmat yang diberikan-Nya sangatlah sedikit. Kebanyakan manusia ingkar terhadap nikmat yang diberikan Allah Swt. kepada mereka. Allah Swt. berfirman: 

“Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas umat manusia, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukurinya.” (QS Yunus: 60).

Di dalam ayat yang lain Allah berfirman:

“Katakanlah: “Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut yang kamu berdoa kepadaNya dengan berendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengatakan): ”Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari bencana ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur.”   Katakanlah: ”Allah menyelamatkan kamu daripada bencana itu dan dari segala macam kesusahan, kemudian kamu kembali mempersekutukanNya.” (QS Al-An’am: 63-64).

Karena itu, ketika karunia yang Allah Swt. berikan itu adalah harta benda, harta kekayaan, maka cara bersyukurnya selain mengucapkan Al-Hamdulillah, juga dengan memberikan sebahagian yang menjadi hak orang lain kepada mereka yang berhak menerimanya, apakah itu bentuknya zakat wajib, maupun infak dan sedekah. Kepada mereka yang senantiasa berada pada jalur ini, Allah Swt. memberikan apresiasi kepadanya dengan menurukan dua malaikat-Nya ke planet bumi ini setiap pagi. Yang satu berdoa: “Ya Allah! Berikanlah ganti yang lebih baik kepada orang yang suka memberi. Sedangkan yang satu lagi berdoa: Ya Allah ! berikanlah kebangkrutan kepada orang yang pelit.(HR. Bukhari). Wallahu a'lam bishawab