
Desa Jiko adalah sebuah desa yang terletak di Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Desa ini berada di sebuah bukit yang menjulang di tepi pantai. Penduduknya sangat beragam, dihuni oleh berbagai suku, diantaranya suku Mongondow yang merupakan penduduk asli. Ada juga suku Sanger, suku Bugis, dan suku Minahasa yang merupakan suku pendatang. Suku Mongondow, sebagai suku asli setempat, mayoritas beragama Islam, namun setelah masuknya berbagai suku tadi, terutama suku Sanger yang beragama non muslim, maka saat ini agama yang mendominasi di Desa Jiko adalah agama Kristen. Hal ini terlihat jelas dari prosentase penduduk. Secara keseluruhan, jumlah penduduk Desa Jiko lebih dari 300 Kepala Keluarga (KK), namun hanya 15 KK yang beragama Islam, yang sebagian besar dari mereka adalah muallaf. Sementara sebagian besar penduduk lainnya beragama Kristen Katolik dan Protestan.
Keadaan perekonomian penduduk Desa Jiko masih rendah. Mata pencaharian sehari-hari mereka hanya bergantung kepada laut dan kebun kelapa. Sebagian besar penduduk adalah nelayan yang pendapatannya tergantung kepada banyak dan sedikitnya ikan yang didapat. (more…)
Ustadz H. Abdul Wahid Alwi, MA
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ * تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ * وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الْأَرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ *
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun.” (QS. Ibrahim: 24-26)
Ayat di atas memberikan perumpamaan kalimah thayyibah (kalimat yang baik) dengan sebuah pohon yang kokoh, akarnya menghujam ke dalam, dan cabangnya menjulur ke langit. Dan Pohon itu akan berbuah pada setiap musim dengan izin Allah SWT. Kalimat yang baik itu adalah kalimat tauhid, lailaha illallah muhammad rasulullah. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana caranya untuk bisa merasakan lezatnya tauhid itu? Untuk mengetahuinya, kita memerlukan wasail (sarana) agar meraih kelezatannya. Di antara sarana itu adalah penglihatan, pendengaran, hati, dan akal. Keempat elemen itu telah Allah SWT berikan kepada manusia, baik yang Muslim maupun non Muslim. (more…)